Sebagai seorang anak, Darcy tidak punya kendali atas liburan keluarganya dan dengan demikian, dia tumbuh menjadi orang yang suka mengontrol Natal — sedemikian rupa sehingga dia lupa apa sebenarnya arti liburan. tiba-tiba, dia mendapati dirinya secara ajaib terbawa ke dalam gagasannya tentang desa Natal yang sempurna dan mengetahui bahwa ‘kesempurnaan’ bukanlah segalanya yang diharapkan.